tulisan cerita hidup saya akan kosong, tanpa anda _orang-orang yang memberikan inspirasi_ untuk mengisi tulisan ini

Selasa, 22 September 2015

Berdoalah

Merebahkan diri sejenak setelah melewati perjalanan dari tempat kerjaku di pedalaman Tambelang ( naik ojek stengah jam yg ojeknya dipesan dulu dari Tombatu, kemudian naik angkot 1 jam lebih untuk bisa tiba di rumahku di Langowan). Bagi sebagian orang kata mereka ini perjalanan yg jauh dgn jalan pun yg bukan hanya lurus saja. Tapi bagi kami yg bekerja di pedalaman ini suatu keseharian yg sudah biasa dalam jadwal kerja kami unthk perjalanan yg bukan mudah.
Ya.. hari ini saya pulang lebih awal karena besok ada apel Korpri dan saya tidak membawa seragam yah pemirsah..
Sambil mengingat2 hal yang sudah dilalui, saya pun teringat mengenaik kesalahan yang sudah sering saya lakukan. Yaa.. dalam hal ini tentang bagaimana mengendalikan emosi saya mengenai pendapat orang lain.  Apa yang saya alami hari ini, membuat saya berpikir "kenapa lagi2 saya jatuh oleh emosi saya?" Kenapa lagi2 saya mudah dikalahkan oleh hal yang tidak penting.
Ternyata teman, tanpa kita sadari semakin kita menjaga untuk tidak bersikap A, ada saja ujian bagi kita untuk bersikap B. Dan ini merupakan taktik si jahat untuk menghambat pertumbuhan kita.
Kita harus ingat bahwa si jahat itu bukan pribadi yang bodoh. Kebenaran saja bisa diputarbalikkan untuk dijadikan senjata agar kita melanggarnya dan menganggap sesuatu yang sepele sebagai langkah kecil agar kita kompromi sehingga tanpa sadar kompromi kita akan menjadi sesuatu yang besar.
Okeh teman, saya tidak mau memilih untuk terlalu jauh berdiam dan berpikir mengenai emosi yang baru saja saya keluarkan. Saya mau memilih untuk menjadikan itu lagi2 sebagai jembatan untuk saya tau dan kenal bahwa saya masih memiliki selubung yang satu ini untuk bisa saya atasi.
Minggu yang lalu saya diberkati oleh buku yang judulnya "Mutiara Bagi Raja" karya Hanna Carol. Hanya judul bukunya saja sudah membawa dampak besar dan luas dipikiran saya. Saya pun berpikir, menjadi mutiara itu bukan sesuatu yang mudah. Putih, bersih, tak bercacat. Dan itulah gambaran yang layak sebagai mempelai Kristus.
Selagi masih diberikan kesempatan, marilah kita tetap terus belajar dan belajar. Tetap semangat untuk memperbaiki kekurangan kita.
Bersyukur saya diberikan pemimpin keluarga yang bijaksana. Pendamping hidup yang menurut saya sudah Tuhan siapkan untuk memimpin saya dan saya percaya itu. Terimakasih buat suami saya yang olehnya saya bisa didampingi untuk bertumbuh.

Temans, dalam hidup kita akan diperhadapkan dengan kesulitan. Dan, seringkali kita merasa tak sanggup untuk melewatinya bukan? tapi, toh sekarang kita ternyata bisa sampai tahap ini bisa melalui semuanya.

Sekali lagi teman, hidup selalu berbicara tentang kesempatan dan pilihan.
Saat kita menghadapi hal sulit, kita dibrikan kesempatan untuk berpikir dan memilih.
Saat kita marah, iri hati, cemburu, tidak mengasihi, mengarah kepada kebencian, perseteruan, kita juga diizinkan untuk berpikir dan memilih.
Berdoalah.
Pekerjaan Tuhan selalu untuk mendatangkan kebaikan.
Kita ada karena kasih Tuhan. Tidak mungkin kita bisa bertumbuh tanpa kasih. Sedangkan Bapa mengasihi kita, tidakkah juga kita mengasihi diri kita? Bukan berarti mengasihani diri atau mengasihi diri dengan berglamorria. Tapi mengasihi diri agar akar keangkuhan tidak merusak bunga yang sudah kita pupuk untuk bisa berbuah.
Memang kita tak luput dari kesalahan dan dosa. Kita tak luput dari pertumbuhan yang dikelilingi semak duri. Tapi kita bisa memilih apakah kita akan terbuai olehnya ataukah kita memilih untuk berjuang bertumbuh.
Tuhan Yesus menolong saya dan kamu sekalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar